Kepedulian Bela, Adit, dan Rahmat

Ini hanya cerita berandai-andai saja.

Bela, Adit, dan Rahmat mendapat tugas dari dosen sosiologi komunikasi untuk mengamati keadaan social di lingkungan kampusnya. Pada suatu waktu  Bela, Adit, dan Rahmat tak sengaja melewati sebuah yayasan kecil. Yayasan tersebut diberi nama yayasan “sekolah bersama yuk”. Sehingga membuat hati mereka tertarik untuk mengamati yayasan tersebut.

Anak didik di yayasan “Sekolah bersama yuk”  ini merupakan anak buangan yang mereka sendiri tak tahu siapa orang tua mereka, ada sebagian anak hilang dan bahkan korban penculikan yang ditelantarkan. Anak-anak tersebut kegiatan sehari-harinya mengamen dan memungut sampah di jalanan untuk dijual ke tukang/Bandar rongsok. Yang mereka tahu hanyalah mengais rupiah demi sesuap nasi.

Tak ada bangunan yang layak untuk tempat mereka belajar,  yang terlihat hanyalah sebuah gubuk terbuat dari kardus dan beralaskan tanah dengan 3 helai tikar. Sekitar 25 anak berusia dibawah 11 tahun sangat berantusias dan sangat bersemangat mengikuti pelajaran/ pendidikan yang diberikan di yayasan tersebut .  Kemudian tanpa ragu lagi, Bela, Adit, dan Rahmat langsung melangkah menuju yayasan tersebut.

Ada 3 orang pemuda yang  sedang mengajarkan mengenai kewirausahaan, tekhnologi, dan bahasa inggris. Ketiga pemuda tersebut merupakan seorang mahasiswa di universitas swasta. Rasa peduli mereka terhadap anak didik sangat besar. Mereka rela meluangkan waktunya untuk mengajarkan dan mendidik anak-anak yayasan. Semangat anak-anak yayasan membuat ketiga mahasiswa ini yakin bahwa anak-anak yayasan harus dan layak mendapatkan pendidikan.  Anak-anak di yayasan tersebut sangat aktif dan serius dalam hal belajar. Terlihat seorang siswa Erni berusia 8 tahun sangat banyak memberikan pertanyaan. “Kak kenapa sih aku tidak seperti anak yang lain yang bisa sekolah di SD yang ada kursi nya?”.  Tersentak hati Bima salah seorang pengajar di yayasan tersebut.

Namun akhirnya Bima dengan bijak memberikan jawaban yang dapat diterima oleh fikiran Erni. Tak ada rasa lelah ketika mahasiswa tersebut mengajar. Membuat hati saya merasa iri, iri karena tak bisa membantu orang-orang yang layak diberi bantuan walau hanya sebuah kalimat yang berisi nasihat. Ka Bima dan teman-temannya menyadarkan Bela, Adit, dan Rahmat untuk dapat saling berbagi dan bersosialisasi dengan sekitar terutama orang yang membutuhkan.

Lantas apa pemerintah memperhatikan hal yang mungkin dianggapnya sepele seperti ini? Bagaimana jika jutaan Erni diluar sana juga terlantar? Mengemis dijalan, hidup di kolong jembatan, atau bahkan melakukan tindakan criminal yang dapat menyebabkan masalah social dan pemerintah lagi yang harus menyelesaikannya. Saran saya, sebagai penulis jadilah orang yang peduli terhadap sesama. Mau berbagi dan ikhlas dalam bertindak. Karena kalau bukan kita siapa lagi yang mau peduli terhadap mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: