Persahabatan

BLACKBERRY

Yoana , Inka , dan Sally sudah 1 bulan memiliki blackberry. Smartphone yang memiliki fitur canggih untuk dapat berkomunikasi yang dilengkapi blavkberry mesengger yang sedang musim banyak dipakai orang-orang. Hanya fabian diantara keempat sahabat itu yang tidak memilikinya. Diluar dugaan faby, ternyata Yoana, Inka, dan Sally menabung untuk membeli sebuah blackberry. Dengan perasaan haru faby maenatap mereka saat menerima uang sebanyak dua juta rupiah yang disodorkan oleh Inka.

“ Kalian ikhlas ?” ternyata agak tersekat.

“ Kenapa tidak fab ?” jawab Yoana cepat.

“Inilah bukti persahabatan kita,” tambah Sally.

“Ya, kami tidak mau kalau kami bertiga memakai blackberry, sementarakamu sendiri tidak. Ya kan Sally ? ucap Inka sambil melirik ke arah Sally.

“Tapi…”

“Sudahlah, tak ada tapi-tapian,” potong Yoana.

“Pokonya uang itu kau simpan dulu, besok kita beli bersam-sama. Tadinya kami mau langsung beli blackberry itu, tapi takuttidak sesuai warnanya dengan keinginan kamu.” Sambung Sally.

Kembali faby memandang ketiga sahabatnya. Sungguh ia tak menyangka memiliki sahabat sebaik mereka.

Suara batuk antonio membuyarkan lamunan Faby. Sudah tiga hari adinknya terkena TBC. Antonio sendiri sudah dibawa ke Dokter, namun resep obatnya belum sempat dibeli. Ibu sudah  mencoba meminjam uang ke tetangga tapi tidak berhasil, Fab.” Kata ibu dengan wajah lesu.

Faby menghela nafas dalam-dalam, ia langsung teringat pada uang pemberian ke tiga sahabatnhya, kalau uang itu sekarang ia pakai untuk menebus obat Antonio, itu artinya ia akan mengecewakan bahkan menghianati kepercayaan dan persahabatan mereka, namun apakah ia juga akan tega melihat adiknya yang sakit ?” sambil merintih perlahan antonio kembali terbatuk-batuk. Mendengar itu, tanpa pikir panjang Faby beranjak pergi keluar, Ia hendak menebus obat dengan uang yang seharusnya di belikan blackberry itu.

Benar juga dugaan Faby, kalau sore harinya Yoana, Inka, dan Sally datang ke rumahnya.

“ Kenapa kamu tidak sekolah, Fab ?” tanya Inka ketika sudah ada di dalam.

“Antonio sakit, In,” Sahut Fabyperlahan.

“Sudah dibawa ke dokter ?” tanya Sally.

Faby mengangguk lesu, ia mencoba untuk tetap tenang.

“Oya kapan kita beli blackberry itu ?” sambung Sally.

Faby tidak langsung menyahut, Ia hanya diam. Sementara itu ia ada yang menyekat pada kerongkongannya, cairan hangat seperti memenuhi matanya.

“Aku sudah siap menerima hukuman dari kalian.” Akhirnya Faby berujar, “Aku telah menggunakan uang yang kalian berikan kepadaku untuk menebus obat Antonio. Soalnya ibu aku benar-benar tidak memiliki uang,” lanjutnya dengan air mata mengucur deras yang tak dapat ia bendung lagi.

Yoana, Inka, dan Sally untuk beberapa saat hanya saling berpandangan. Ada rasa haru menyelip perasaan mereka.

“Kamu sudah memilih yang terbaik, Fab” kata Sally denga terpatah-patah,” dan sama sekali tak ada yang perlu dihukum.

“Tapi aku telah mengecewakan kalian. Bukankah uang itu untuk dibelikan blackberry ?” potong Faby sambil terisak-isak.

“Fab… tanpa blackberry itu pun kita akan bersahabat, bukan begitu ?” ucapa Inka sambil melirik ke arah Yoana dan Sally.

“Ya, kita akan tetap bersahabat Fab,” kata Yoana.

Akhirnya mereka pun berpelukan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: