MOTOR BUTUT DAN IRMA

Bagi banyak orang, mungkin motor gue udah layak buat segera dimusiumin. Tapi gue berpendapat lain. Terlalu banyak kenangan gue ama motor ini. Berderet-deret peristiwa dan kejadian yang udah gue lalui ama motor butut ini. Motor ini pernah sangat berjasa nganterin gue ke sekolah tiap hari di tiap pagi waktu gue  masih SMA dulu, mulai dari kelas satu sampe akhirnya gue lulus. Motor yang setia ngedengerin keluh kesah gue dikala sedang gelisah, nemenin gue  ngabisin malam sambil duduk merenung di sudut remang kota. Motor yang ngajarin gue, kalo ternyata hidup prihatin itu bisa pula dinikmati.

 

Namun dibalik semua kisah itu, motor inilah yang  ngajarin gue, kalo emang masih ada cewe yang gak menilai cowo hanya dari materi semata. ngajarin bahwa kesetiaan dan menerima apa adanya ternyata masih bisa ditemui di tengah dunia yang makin materialis dan penuh itungan untung-rugi.

 

Gue kenal Irma pas gue masuk  kuliah semester dua. Gue termasuk cowo yang susah buat bisa bergaul cair dengan teman lawan jenis. Sehingga gak heran, gue baru bisa banyak kenal ama temen cewe pas udah nginjak semester dua, Irma adalah satu diantaranya.

 

Sebenarnya semuanya bermula biasa saja. Gue  mulai dekat ama Irma pas gue sering online facebook. Maklum aja,FB baru booming sekitar tahun 2009. Berawal dari chattingan sampai video call dan ketemuan. Gue sering ngajari dia soal ilmu komputer. Soalnya dia masih SMA kelas 2.  Dia sangat sering menanyakan hal-hal yang berkaitan tekhnologi dan gue sangat senang bisa bantuin dia. Akhirnya tanpa sadar, seringkali gue minjemin buku paket sampai harus pergi ke rumahnya. Minjemin buku, dilanjutin  ngobrol bentar, terus pulang. Satu dua kali sih biasa aja, gak kerasa ada yang beda. Semuanya biasa saja. Tapi lama kelamaan, kebiasaan ngobrol abis balikin buku sering banget dilanjutin makan bersama. Kadang makan di warung sebelah rumahnya, namun lebih sering makan masakannya sendiri. Bagi lidah gue masakannya termasuk enak, tak kalah dengan masakan warung sebelah rumahnya.

 

Mungkin benar kata orang Jawa, witing tresna jalaran saka kulina. Datangnya cinta karena pertemuan yang sering dan berlangsung lama. Sejak sering ngobrol, makan bersama, kita pun lama-kelamaan suka saling curhat. Dari saling curhat itulah gue mulai ngerasa bergantung banget ama dia, ngerasa butuh dia, ngerasa nyaman dideket dia. Ada satu hal yang berubah semenjak gue deket ama Irma, gue  jadi jarang bolos kuliah lagi. Sesuatu yang gak pernah gue bayangin sebelumnya. Bisa jadi akibat dari gue, dengan terpaksa namun bahagia, sering mengantar dan menjemputnya ketika pergi sekolah.

 

Pada pertengahan semester tiga pun gue mulai jadian. Pertama jadian, sebenarnya gue ngerasa kurang percaya diri. Maklum saja, seminggu abis  jadian gue  baru mengetahui kalau dia ternyata anak orang dari ekonomi kurang. Jauh berbeda ama gue yang anak pegawai . Dia sering cerita mengenai ayahnya yang kasar dan malas bekerja serta ibunya yang hanya seorang tukang kredit pakaian keliling . Gue kira dia anak orang biasa kaya gue, tidak terlalu banyak fasilitas yang tersedia. Ia selalu membuat tugas kuliah juga di rental komputer. Seringkali pula dia lebih suka memasak sendiri daripada menysahkan ibunya untuk dibuatkan masakan. Dia gadis yang pintar dan sederhana. Dia juga suka mencuci bajunya sendiri. Semua kerjaan di rumah dia kerjain sendiri. Gue tau itu cape tetapi katanya biar dia bisa belajar mandiri.

 

Irma ga bakalan pernah bercerita tentang latar belakang keluarganya pada siapapun. Hingga akhirnya setelah sebulan kita jadian gue janji bakal jagain dia layaknya ade gue sendiri. Dia anaknya cantik, sering cowok godain dia buat jadi pacarnya. Tapi Irma bukan gadis centil kaya anak SMA pada umumnya. Mengapa dia lebih milih gue daripada mereka. Namun apa jawaban yang aku dapat. Sambil memegang kedua tangan gue dia berujar, “Ternyata kamu sudah tahu ya kalau ternyata aku anak orang… Hmm, namun bagi gue ketulusanmu, kejujuranmu, kemauanmu untuk terus maju dan berubah serta perhatianmu sudah merupakan lebih dari cukup bagi gue.” Sebuah jawaban yang bisa nenangin hati gue.

 

Satu hal yang paling gue sukai dari Irma, dia sangat menghargai rasa sayangku terhadap motor butut gue. Dia menyadari bahwa sudah terlalu banyak kenangan yang pernah gue lalui ama motor gue  itu. Dia pun tak pernah keberatan gue antarin kemanapun dengan motor itu. Pernah dia berujar, “Tahukah kenapa aku sangat suka naik motormu ini?” Sebelum gue sempat jawab dia menimpali, “Dengan naik motor ini, waktu kita berduaan semakin lama. Karena motor ini nggak bisa ngebut. Satu lagi yang aku sukai dari motormu, pastinya nggak ada cewek selain aku yang mau kamu bonceng dengan motormu ini.”

 

Sebuah jawaban yang sempat bikin gue sewot dengannya seharian. Namun sebelum sewot hari itu berubah menjadi kejengkelan, sambil menyuguhin gue  segelas kopi panas dia berujar, “Tadi cuman bercanda. Jangan marah ya. Sebetulnya, dengan motor itu, aku menemukan sebuah sosok yang sederhana dan mau terbuka dengan orang lain tentang keadaanmu yang sebenarnya. Itulah yang membuatku tertarik padamu. Kamu mempunyai kepribadian yang kuat.”

 

Motor butut dan Irma ngajarin gue banyak hal. Tentang makna-makna yang tersembunyi di balik simbol-simbol. Yang mungkin jarang kita tangkap, kita mengerti dan kita pahami.

 

Semua orang di kampus udah mengetahui tentang hubungan kita. Memang sewaktu berangkat dan pulang kita berboncengan dengan motor butut gue. Namun setelah itu, entah gue  ke utara dan dia ke selatan, itu adalah hak masing-masing. Baru nanti pada jam yang telah disepakati sebelumnya kita bertemu di depan sekolah Irma.

 

Irma lulus dari SMA nya dengan nilai yang memuaskan. Dan di terima di PTN ternama jalur beasiswa. Walau dia anak orang yang kurang mampu dari segi ekonomi, namun dia mempunyai semangat yang tinggi untuk merubah keadaan orang tuanya. Dia selalu berprestasi dan rajin beribadah.

 

Irma makin hari juga makin larut dengan aktifitasnya di lembaga pers mahasiswa di fakultas. Semua itu memunculkan konsekuensi, kami mulai jarang bertemu. Yang biasanya kami tiap hari bertemu, sekarang berangsur berkurang menjadi tiga hari sekali. Untungnya kami bisa saling belajar untuk saling memahami kondisi masing-masing. Pernah pula pada suatu waktu, kami tak bertemu selama seminggu.

 

Sejalan dengan waktu tak terasa hubungan kami sudah berlangsung selama tiga tahun. Bagi gue hubungan antara gue ama Irma cukup menarik. Latar belakang yang berbeda membuat kami harus saling berkerja keras untuk bisa saling memahami. Tak jarang pula salah paham terjadi. Mulai dari hal-hal yang kecil dan remeh sampai hal-hal yang prinsipil. Walaupun akhirnya bisa diatasi dengan berdiskusi dan saling instropeksi.

 

Untaian waktupun akhirnya memaksa kita untuk harus segera menyelesaikan kuliah. Untunglah segalanya berjalan lancar, walaupun seringkali gue tak bisa mengantarkannya ketika harus berburu buku atau data-data skripsi. Ternyata ada hikmah dari kondisi kami yang jarang saling bertemu. Kami mulai mengurangi ketergantungan satu sama lain. Kami berdua ingin bahwa hubungan yang telah lama terjalin ini terus berlanjut ke tahapan yang lebih serius. Seiring berjalannya sang waktu. Gue dan Irma akhirnya menikah dan berkeluarga. Gue sekarang bekerja dengan membuka toko komputer di Jakarta, sedangkan Irma menjadi dosen di UI jurusan Komunikasi.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: